Launching Wisata Sawah Batu Bukateja Kabupaten Tegal

Wisata Sawah Batu Bukateja Balapulang Kabupaten Tegal akan launching/foto: istimewa
           Laporan: Nurul Widad

SLAWI- Merawat sawah batu bentang alam ciri khas desa, dengan pemberdayaan ekonomi desa melalui Wisata Sawah Batu Desa Bukateja Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal.

Desa Bukateja terletak di kecamatan Balapulang Kabupaten Tegal,  sekitar 14 km dari kota Slawi, dengan waktu tempuh sekitar 25-30 menit dengan kendaraan bermotor. Kecamatan Balapulang memiliki bentang alam dengan topografi berbukit-bukit dan banyak didominasi oleh bebatuan sisa-sisa aktivitas vulkanik Gunung Slamet.  Bila ditarik garis lurus, Desa Bukateja dan Gunung Slamet hanya berjarak sekitar 19 km.

Mata pencaharian masyarakat Desa Bukateja rata-rata bergerak di sektor pertanian padi musiman. Di musim kemarau warga desa banyak yang pergi merantau untuk mencari rejeki dengan bekerja apa saja (serabutan) ke kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung,  dan ketika musim penghujan tiba,  mereka pulang kembali ke desa untuk menggarap sawahnya.


Pemuda Desa Urbanisasi

Warga Desa Bukateja,  terutama anak muda usia produktif, banyak yang memilih untuk pergi merantau, baik secara permanen maupun merantau dalam jangka waktu tertentu. Sebagian dari mereka hanya sesekali pulang ke desanya, pada saat hari-hari libur. Dengan kondisi tersebut, maka desa seringkali mengalami situasi kesulitan mencari sumber daya manusia, terutama anak-anak muda yang mau terlibat dalam mengembangkan program-program desa yang inovatif, dalam rangka pembangunan desa.

Bagi sebagian besar anak muda, khususnya yang pergi merantau, mereka merasa bahwa potensi yang ada di desa Bukateja kurang bisa diharapkan untuk dapat memenuhi kebutuhan ekonomi mereka. Biasanya anak-anak muda desa berangkat merantau selepas  lulus SMA.

Di samping itu, dengan minimnya jumlah anak muda, terjadi kondisi di mana banyak warisan leluhur yang akhirnya terputus dan tidak lagi dikenal oleh generasi muda, seperti contohnya seni budaya, tradisi, sejarah desa, dan beraneka kekayaan kearifan lokal, yang akhirnya hilang, karena tidak ada lagi anak muda yang mempelajari serta melestarikannya.


Sawah Batu Bukateja

Di desa Bukateja terdapat area persawahan yang sangat luas terbentang, dengan total luasan hampir  83 hektar. Lebih dari 500 orang warga Desa Bukateja mencari penghidupan di bidang pertanian, hal ini menunjukkan bahwa sawah adalah salah satu sumber kehidupan utama bagi desa berpenduduk 872 KK ini.

Karena Desa Bukateja merupakan salah satu ujung terjauh sebaran batuan geologi dari aktivitas vulkanik Gunung Slamet, maka tidak heran bebatuan sisa-sisa vulkanik ini tersebar luas di sepanjang area desa, baik di permukaan tanah maupun di bawah lapisan tanah, termasuk di area persawahan.

Dalam menggarap sawahnya, warga selalu menjumpai bebatuan dalam jumlah yang tidak sedikit dengan berbagai ukuran. Untuk batu-batuan yang tidak terlalu besar, batu-batuan ini akan ditata ditumpuk rapi sedemikian rupa dimanfaatkan sebagai pematang sawah. Untuk batu-batuan berukuran besar biasanya akan dibiarkan saja di sawah, atau dipecah-pecah menjadi ukuran yang lebih kecil, untuk dimanfaatkan sebagai bahan bangunan

Sawah dengan pematang dari tanah dan tatanan batu-batuan sisa aktivitas vulkanik yang terlihat unik ini menjadi ciri khas hamparan sawah di desa Bukateja dan beberapa desa sekitarnya. Karena itu lahirlah gagasan "branding desa" dengan sebutan "Sawah Batu", sebagai sebuah identitas yang menggambarkan karakteristik alam yang spesifik di Desa Bukateja.


Wisata Sawah Batu

Walaupun tanahnya sangat subur, namun salah satu kendala terbesar dalam aktivitas pertanian di Desa Bukateja adalah minimnya air di musim kemarau. Jangankan untuk mengairi sawah, guna mencukupi kebutuhan keseharian warga untuk keperluan kamar mandi dan cuci di musim kemarau pun cukup sulit. Sebagian sumur warga di desa ini menjadi kering di musim kemarau.

Lahan-lahan pertanian menjadi kering dan tidak produktif di musim kemarau, dan tentu saja hal ini membuat kondisi perekonomian desa terganggu. Hal ini menyebabkan sebagian warga desa pergi merantau di musim kemarau, dan baru kembali pulang ke desanya di musim hujan.

Dari pemetaan kondisi tersebut, lahirlah gagasan dari Pemerintah Desa Bukateja untuk mengembangkan aktivitas wisata desa, sebagai salah satu alternatif solusi untuk membangkitkan perekonomian desa, mengurangi angka urbanisasi, serta mengembangkan potensi sumber daya manusia, khususnya bagi kalangan anak muda desa.

Sejak bulan Maret 2019, Pemerintah Desa Bukateja bekerja sama dengan HIDORA (Hiduplah Indonesia Raya) merancang konsep pengembangan wisata desa yang sesuai dengan karakter dan potensi yang ada di Desa Bukateja. HIDORA merupakan lembaga yang intens dalam mengembangkan berbagai program pemberdayaan masyarakat melalui wisata desa, berbasis pelestarian budaya dan konservasi alam serta lingkungan hidup, yang sudah banyak bergerak mendampingi desa-desa di wilayah Kabupaten Tegal dan di beberapa kota/kabupaten di Jawa Timur (Banyuwangi, Jember, Malang).

Karakter dan ciri khas Desa Bukateja dengan sawah batu-nya menjadi gagasan mendasar yang direncanakan untuk dikembangkan sebagai potensi wisata di Desa Bukateja. Wisata Sawah Batu Bukateja, demikian "judul" program yang mendapatkan pembiayaan dari Dana Desa ini, sebagai salah satu usaha dari BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) Desa Bukateja, dan dikelola oleh Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) Desa Bukateja.


Zero Plastic Waste

Konsep wisata desa di Bukateja untuk tahap pertama di tahun 2019 ini adalah pengembangan area persawahan sebagai lokasi untuk wisata kuliner. Sebuah hall berkapasitas lebih dari 50 orang dan 13 buah gazebo berkapasitas 4-6 orang ditata di pematang-pematang sawah, terhubung dengan jembatan bambu, dan  kolam renang bernuansa alami, itu semua menjadi spot menarik untuk menikmati kuliner tradisional dengan suasana indah persawahan yang berada di kaki bukit Clirit ini.

Tepat di area sentral lokasi tersebut terdapat bangunan lapak berbahan bambu yang disediakan untuk para pedagang kuliner lokal desa. Berbagai kuliner lokal desa ataupun kuliner lokal Tegal disajikan untuk pengunjung dengan kemasan tradisional, menggunakan daun, piring lidi, takir, dan sejenisnya, tanpa plastik. Konsep utamanya adalah zero plastic waste (tanpa sampah plastik).

Zero plastic waste menjadi sebuah tema yang digagas untuk mengedukasi masyarakat dan pengunjung wisata, agar tumbuh kesadaran untuk meminimalisasi penggunaan plastik kemasan. Kita semua tahu, di era sekarang ini, kecenderungan pedagang maupun konsumen dalam penggunaan plastik untuk kemasan sangat tinggi, dan ini tidak baik. Kemasan plastik hanya digunakan selama beberapa menit atau beberapa jam, namun setelah dipergunakan sampah plastiknya tidak hancur terurai, butuh ratusan tahun waktu untuk menguraikan sampah plastik secara alami.

Belum lagi bahan dasar dalam proses pembuatan plastik ini menggunakan minyak bumi. Maka, bila sampah plastik dimusnahkan dengan cara dibakar tentunya akan menimbulkan polusi udara yang sangat membahayakan bagi kesehatan, karena bahan dasarnya dari minyak bumi (khususnya untuk bahan baku plastik dari jenis polyethylene, polystyrene, polycarbonate, dan polyvinyl chloride).

Atas dasar pemikiran tersebut, maka di pengelolaan Wisata Sawah Batu Bukateja telah disepakati bersama untuk tidak mengakomodasi penggunaan plastik. Selain itu, di Wisata Sawah Batu terdapat pemilahan sampah organik dan sampah anorganik, yang kemudian untuk sampah-sampah organik sisa makanan akan dikumpulkan untuk diolah menjadi kompos. Harapannya, Wisata Desa Bukateja dapat menjadi percontohan dalam pengelolaan pariwisata yang ramah lingkungan dan berbasis konservasi lingkungan hidup.


Nyore di Bukateja

Sore hari menjelang matahari terbenam merupakan "prime time", waktu paling ideal untuk menikmati suasana Wisata Sawah Batu Bukateja. Perpaduan pemandangan indah area kaki perbukitan Clirit dengan bangunan-bangunan bambu hall, gazebo, dengan jembatan bambunya, akan menjadi makin terlihat menawan di senja hari saat matahari terbenam.

Suasana alam yang sangat cantik akan makin mengesankan, sambil menikmati sajian minuman hangat teh atau kopi, lengkap dengan kudapan kuliner tradisional yang dimasak oleh warga desa. Ini semua akan membuat "nyore di Bukateja" kian sempurna.

Direncanakan setiap harinya Wisata Sawah Batu akan dibuka sejak sore hingga malam hari, dan di hari Minggu serta hari-hari libur wisata kuliner spesial ini akan dibuka mulai pagi hingga malam hari. Di luar jam-jam buka reguler tersebut, Wisata Sawah Batu juga akan melayani permintaan-permintaan khusus, seperti kebutuhan instansi/perusahaan/komunitas yang memerlukan hall untuk pertemuan, pelatihan, workshop, reuni, halal bi halal, maupun kegiatan-kegiatan lainnya, di luar jam buka reguler yang ada.

Hall ruang pertemuan berbahan bambu dengan arsitektur yang unik dan megah ini mampu menampung 50 hingga 100 orang peserta kegiatan dengan duduk lesehan, berikut lengkap dengan fasilitas sound system dan LCD projector-nya, bila dibutuhkan. Tentu saja sajian kuliner makanan berat untuk makan pagi/siang/malam,  maupun makanan ringan untuk coffe break, dengan aneka menu pilihan, akan menjadi salah satu daya tarik bagi pengunjung yang membutuhkan hall untuk berkegiatan.

Sebelum Wisata Sawah Batu Bukateja ini di-launching, ternyata hall Wisata Sawah Batu  sudah beberapa kali dipergunakan untuk berbagai kegiatan pertemuan, antara lain: Rapat Pendamping Desa se-Kabupaten Tegal, Rapat Kelompok Wanita Tani se-Kecamatan Balapulang, Rapat Kelapa Sekolah SD se-Kecamatan Balapulang, Pelatihan Desa Wisata oleh Disparpora Kab. Tegal, Pertemuan Kepala Desa se-Kecamatan Balapulang, Launching Desa Anti Politik Uang oleh Bawaslu, Raker Sekdes se-Kecamatan Balapulang, dan Upacara Hari Santri. Di bulan Desember 2019 ini juga sudah antri beberapa kegiatan yang akan diselenggarakan di lokasi Wisata Sawah Batu.


Opera van Bukateja

Setelah tuntas proses pembangunan area Wisata Sawah Batu di tahap pertama ini, maka Desa Bukateja berencana me-launching wisata desa ini di hari Sabtu 30 November 2019.  Segenap komponen masyarakat Desa Bukateja bergotong-royong untuk mempersiapkan acara peresmian wisata desa ini. Launching Wisata Sawah Batu Bukateja`akan dibagi dalam 3 bagian acara besar, yaitu: Kirab Budaya, Opera van Bukateja, Opening Pasar Sawah Batu Bukateja.

Kirab Budaya dimulai jam 14.00 WIB, diawali dengan kegiatan berdoa bersama di makam Mbah Megantara, pendiri Desa Bukateja, yang kemudian dilanjutkan dengan kegiatan kirab budaya, yaitu pawai budaya mengarak gunungan buah-buahan dan sayuran sebagai simbolik ungkapan rasa syukur, dengan rute kirab berawal dari Makam Mbah Megantara sampai ke lokasi Sawah Batu. Sesampai di lokasi sawah batu, warga akan makan bersama dengan sebelumnya diawali dengan pembacaan mocopat dan doa bersama yang dipimpin oleh para sesepuh dan pemuka agama.

Puncak dari acara launching Wisata Sawah Batu Bukateja adalah performance seni budaya di malam harinya yang dimulai jam 19.30 WIB, dengan bentuk kegiatan teater tradisional kontemporer yang diberi tajuk *OPERA VAN BUKATEJA*, yang mengangkat judul cerita: *"Rasa Adi Ning Jagad"*. OPERA VAN BUKATEJA  memang terinspirasi dari acara televisi Opera van Java, yang tentu saja dikemas sesuai kondisi lokal Kabupaten Tegal, khususnya Desa Bukateja.

Opera van Bukateja dengan judul "Rasa Adi Ning Jagad" mengangkat sebuah cerita tentang sejarah Desa Bukateja dengan tokoh sentralnya yaitu Mbah Megantara, seorang prajurit dan pejuang yang memiliki kekerabatan silsilah dari Bathara Katong, pendiri kabupaten Ponorogo. Bathara Katong merupakan keturunan dari Prabu Brawijaya V (Raja Majapahit) dengan Putri Campa (salah seorang selir utama yang beragama Islam), dan menjadi utusan Kesultanan Demak untuk menyebarkan Islam di Ponorogo. Dalam perjalanan perjuangan dan pengabdiannya, sampailah Mbah Megantara di bumi Bukateja yang dulunya masih berupa hutan belantara, yang kemudian dibukalah hutan tersebut dan menjadi cikal bakal Desa Bukateja hari ini.

Opera van Bukateja "Rasa Adi Ning Jagad" disutradarai oleh Jimmy HC, seniman kontemporer berbakat dari Tonjong Brebes. Sementara yang akan menjadi dalang dalam Opera van Bukateja iini adalah Ki Dalang Carito, dalang senior Kabupaten Tegal dari Desa Karanganyar Kecamatan Kedungbanteng, yang banyak disebut-sebut sebagai penerus Wayang Santri Ki Enthus Susmono.

Tata musik dalam Opera van Bukateja digarap oleh Herry Slumpring dan Suyip Slumpring, seniman berbakat dari Desa Cempaka Bumijawa, yang didukung oleh grup gamelan Laras Mudha Bukateja pimpinan Ilman Maulana Syahbini, grup hadrah Irsyada Bukateja, grup koor dan qasidah Jamiyah Amaliyah, grup terbang Jawa Toha dkk, penari dari SDN 01 dan SDN 02 Bukateja, Formalitas Band Bukateja, serta grup drum band MTST Darul Muttaqin Bukateja.

Selain diisi oleh pemeran lokal dari pemerintah desa, Pokdarwis, maupun warga desa Bukateja, terdapat bertabur pemeran bintang tamu Opera van Bukateja, antara lain Bupati Tegal Dra. Hj. Umi Azizah, Bung Tewe Slawi FM, Tri Andri PN (Ketua HIDORA), Kades Bukateja, Camat Balapulang, Grup Amoeba Ethnic Desa Cempaka, dan band unik: TEBAR SAE BAND (Tegal Banyuwangi Seduluran Selawase), yang beranggotakan Imam Joend (vokalis, pencipta lagu dari Balapulang), DR Agus Wibowo (gitaris, Dekan Fakultas Teknik Universitas Pancasakti Tegal), Tegar (drummer dari Slawi), Tedjo Bachtiar (pemain keyboards, dari HIDORA Banyuwangi), Adriana Maria Olarte (pemain bass, volunteer HIDORA dari Colombia, Amerika Selatan), dan Rian Nuriska (gitaris dari Desa Bukateja).

Dalam salah satu babak di Opera van Bukateja, terdapat adegan cerita tentang peresmian Wisata Sawah Batu Bukateja oleh Bupati Tegal. Peresmian ini menjadi tanda bagi dibukanya Wisata Sawah Batu Bukateja yang akan langsung beroperasi di pagi keesokan harinya (hari Minggu, 1 Desember 2019).

Harapannya, Wisata Sawah Batu Bukateja ini bisa menjadi solusi atas kondisi permasalahan di desa Bukateja, terutama dari sisi pengembangan potensi ekonomi desa, dan mampu mengurangi angka urbanisasi anak muda desa, melalui terciptanya usaha pariwisata desa berikut segala bisnis turunannya.  Wisata Sawah Batu Bukateja ini juga akan menjadi media yang produktif dalam menjaga dan merawat alam desa, sekaligus mampu menghasilkan pemasukan ekonomi bagi para warga desa.(*)

Bukateja Kecamatan Balapulang Kabupaten Tegal, Sabtu 30 November 2019



ranahpesisir

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.